Baca · Tokyo

Di Balik GuideTunes

Dari perjalanan yang hanya melihat, menjadi perjalanan yang mendengar dan merasakan. Mengapa kami membuatnya, dan ke mana kami menuju.

Dari perjalanan yang hanya kamu lihat, menjadi perjalanan yang kamu dengarkan dan rasakan.

GuideTunes lahir dari seorang pengembara yang gemar menjelajahi dunia hanya dengan satu ransel. Selama bertahun-tahun, aku menyusuri banyak negara dan mengalami beragam budaya, pemandangan, serta perjumpaan dengan orang-orang.

Bepergian memang sungguh menakjubkan. Namun begitu, selalu ada satu hal yang kurasakan di sepanjang jalan.

"Menakjubkan." Tapi hanya sampai di situ.

Di hadapanmu berdiri sebuah bangunan dengan sejarah berabad-abad. Sebuah hidangan yang dicintai warga setempat dari generasi ke generasi. Adat dan budaya yang khas hanya di tempat itu. "Menakjubkan," pikirmu — namun kamu berlalu begitu saja tanpa pernah benar-benar memahaminya.

Tur berpemandu setempat bisa mahal, terikat jadwal yang kaku, dan terasa sulit diikuti bagi pelancong solo. Sering kali hanya tersedia dalam bahasa Inggris atau Mandarin.

Ada papan informasi di setiap titik wisata, tetapi selagi kamu membaca teksnya, kamu kehilangan waktu untuk benar-benar memandang apa yang ada di depan matamu. Kamu akhirnya sampai di sana, namun tak bisa sepenuhnya menyerap udara dan suasananya. Kamu menunduk demi belajar, dan pemandangan itu pun luput begitu saja. Aku menjalani perjalanan semacam itu berulang kali.

Maka, aku membangun sebuah aplikasi untuk bepergian dengan telinga.

Bagaimana jika, sembari melangkah, kamu bisa mendengar kisah sebuah tempat lewat telingamu? Bagaimana jika kamu bisa terus memandang pemandangan sambil mengenal sejarah dan budayanya?

Kapan pun kamu mau. Dalam urutan apa pun. Bahkan sendirian. Dengan ritmemu sendiri. Jika kamu bisa bepergian seperti itu, kamu akan semakin mencintai tempat itu.

Itulah harapan yang melahirkan GuideTunes. Ini bukan sekadar menyampaikan informasi — kami mendambakan panduan audio yang membuatmu merasakan aliran waktu, udaranya, bahkan denyut kehidupan sehari-hari orang-orang di sana.

Mengubah "aku tak paham" milik dunia menjadi "aku bisa merasakannya."

Kami memulai dari Jepang. Sensoji. Meiji Jingu. Menara Tokyo. Tsukiji. Ramen, sushi, tempura. Jepang penuh dengan tempat dan budaya yang menjadi jauh lebih memikat begitu kamu memahaminya.

Namun ini baru permulaan. Suatu hari nanti, kami ingin mengubah kota-kota dan budaya di seluruh dunia menjadi perjalanan yang bisa "didengarkan dan dirasakan." Ke mana pun kamu melangkah, kami ingin membangun dunia tempat kamu dapat memahami sebuah tempat dalam bahasamu sendiri dan menikmatinya sepenuh hati.

Dukunganmu memperluas perjalanan ini.

GuideTunes masih sebuah proyek kecil dan mandiri. Membuat setiap panduan audio menuntut begitu banyak waktu dan biaya — riset di lapangan, mempelajari sejarah dan budaya, penerjemahan, produksi audio, serta membangun dan menjalankan aplikasinya.

Dukunganmu akan kami manfaatkan dengan penuh kesungguhan untuk menumbuhkan GuideTunes menjadi layanan yang lebih baik: menambah destinasi baru, memperluas bahasa yang kami dukung, meningkatkan kualitas audio, dan menyempurnakan aplikasinya.

Mari kita bangun masa depan perjalanan, bersama-sama.

GuideTunes bukanlah layanan yang sudah jadi. Kami ingin menumbuhkannya bersama semua orang yang gemar bepergian.

"Tolong tambahkan tempat ini juga." "Aku suka sekali kisah ini." "Semoga kalian juga meliput negara ini." Setiap suara itu menjelma menjadi masa depan GuideTunes.

Perjalanan tak berakhir pada memandang pemandangan. Ketika kamu benar-benar mengenal sebuah tempat, merasakan budayanya, dan memahami orang-orangnya, perjalanan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih istimewa.

Dari perjalanan yang hanya kamu lihat, menjadi perjalanan yang kamu dengarkan dan rasakan. Jika ini menyentuh hatimu, dukunglah GuideTunes. Dukunganmu membuat perjalanan di seluruh dunia menjadi lebih kaya. Terima kasih, sungguh dari hati.

Tempat dalam cerita ini

Buka di aplikasi GuideTunes